IKLAN

banner 728x90
,

Rakorda ICCN Jawa Timur di Blitar, Jatim Creative Connect Perkuat Kolaborasi Ekonomi Kreatif Dari Daerah Untuk Indonesia

23 Okt 2026, 18:55 WIB Last Updated 2026-10-23T11:55:37Z

Infokotabatu.com , Blitar ; Indonesia Creative Cities Network (ICCN) Jawa Timur menggelar Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) bertajuk Jatim Creative Connect: Dari Blitar untuk Indonesia pada Sabtu hingga Minggu (17–18 Oktober 2026). Kegiatan yang dipusatkan di wilayah Blitar ini menjadi momentum memperkuat kolaborasi antardaerah, komunitas, akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah dalam mengembangkan ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan.


Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, Dr. H. Emil Elestianto Dardak, B.Bus., M.Sc., di Ruang Rapat Candi Penataran, Kantor Kabupaten Blitar, Sabtu (17/10/2026). Rakorda ini diikuti jejaring pelaku ekonomi kreatif dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur.


ICCN menjadi wadah kolaborasi untuk mempertemukan simpul-simpul kreatif dari berbagai daerah, memperkuat jejaring, berbagi praktik baik, membuka peluang kerja sama, serta merumuskan langkah nyata bagi kemajuan ekonomi kreatif. Melalui pendekatan kolaborasi hexahelix dan pentahelix, kegiatan ini diharapkan mampu menghubungkan potensi daerah dengan peluang pengembangan di tingkat nasional maupun internasional.


Dalam sambutannya, Emil Dardak menyampaikan bahwa perkembangan ekonomi kreatif di Jawa Timur menunjukkan tren yang menggembirakan. Provinsi dengan jumlah penduduk sekitar 42 juta jiwa tersebut memiliki potensi besar yang ditopang berbagai subsektor unggulan, antara lain kuliner, kriya, dan fesyen. Kontribusi ekonomi kreatif Jawa Timur terhadap nasional disebut mencapai 8,34 persen.


Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur berkomitmen memperkuat kebijakan dan kelembagaan yang mendukung perkembangan ekonomi kreatif. Salah satu langkah yang disiapkan adalah pembentukan unit atau dinas khusus yang menangani sektor ekonomi kreatif, dengan mempertimbangkan efisiensi dan sinergi bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.


Selain penguatan kelembagaan, pemerintah juga berupaya menyesuaikan sistem pendidikan vokasi dan pelatihan kerja agar kompetensi yang diberikan sesuai kebutuhan nyata industri kreatif. Balai Latihan Kerja diharapkan mampu mendukung peningkatan kapasitas pelaku ekonomi kreatif, termasuk pekerja lepas atau freelancer.


Emil juga menyoroti perlunya pendekatan yang lebih adaptif dalam menentukan standar mentor dan tenaga profesional ekonomi kreatif. Menurutnya, sektor ini memiliki karakteristik tersendiri yang membutuhkan penilaian berdasarkan portofolio, pengalaman, dan jejaring, bukan hanya parameter teknis konvensional.


Melalui penyusunan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda), Pemprov Jawa Timur juga berupaya menciptakan lingkungan yang kondusif bagi para pekerja kreatif agar dapat mengembangkan karier dan mempertahankan aktivitas profesionalnya di Jawa Timur.


Kolaborasi dengan ICCN dan komunitas lokal menjadi bagian penting dari strategi tersebut. Keterlibatan jejaring seperti Blitar Creative Forum serta komunitas kreatif di berbagai daerah diharapkan mampu menjaga kesinambungan ekosistem ekonomi kreatif, termasuk ketika terjadi pergantian kepemimpinan daerah.


Rangkaian Jatim Creative Connect 2026 juga diarahkan untuk memperkenalkan aset, gagasan, dan potensi kreatif daerah ke tingkat nasional hingga internasional, termasuk melalui momentum World Conference on Creative Economy (WCCE).


Selama dua hari pelaksanaan, Rakorda ICCN Jawa Timur menghadirkan sejumlah agenda strategis.


Pertama, Leaders Talk, yakni forum para pemimpin daerah untuk membahas visi, arah kebijakan, kepemimpinan, investasi, dan masa depan ekonomi kreatif. Forum ini dihadiri Bupati Blitar Drs. Rijanto, M.M., Wali Kota Blitar H. Syauqul Muhibbin, S.H.I., serta Bupati Pasuruan H. Muchamad Rusdi Sutejo. Ketiganya membahas pengembangan potensi ekonomi kreatif di daerah masing-masing melalui kolaborasi lintas sektor.


Kedua, Creative Talk, yang menjadi ruang berbagi gagasan, pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik dari akademisi, kreator, komunitas, media, serta mitra ekosistem. Forum ini melibatkan 34 jejaring pelaku ekonomi kreatif se-Jawa Timur, bersama akademisi Inti Nahari, dosen S2 Ekonomi Kreatif Universitas Negeri Surabaya, dan Very Setiawan, Focal Point UNESCO Creative Cities Network sekaligus dosen Universitas Darussalam Gontor Ponorogo.


Pembahasan dalam forum tersebut menghasilkan berbagai gagasan mengenai pengembangan komunitas kreatif, desa kreatif, serta dorongan pembentukan komite ekonomi kreatif di tingkat kabupaten dan kota.


Ketiga, IP Talk, forum yang mempertemukan kreator dan pemilik kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) dengan industri, media, platform, pasar, dan akses pembiayaan. Pembahasannya meliputi pengembangan IP, lisensi, distribusi, monetisasi, investasi, hingga perluasan pasar. Forum ini mempertemukan inovasi dari Banyuwangi Youth Creative Network, produk bio-teraso dari Nganjuk Creative Hub, serta Bank Jatim sebagai salah satu mitra dalam pengembangan dan agregasi bisnis kreatif Jawa Timur.


Keempat, Creative Village, melalui kunjungan ke Desa Minggirsari, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar. Desa yang dikembangkan sebagai desa ekonomi kreatif sejak 2021 tersebut memiliki potensi untuk menjadi contoh pengembangan desa berbasis kreativitas dan budaya lokal.


Dalam agenda ini, ICCN Jawa Timur mendorong pengembangan Desa Minggirsari sebagai desa kreatif dengan konsep living museum, termasuk melalui Pasar Kreatif Kali Brantas yang mengangkat narasi Sungai Brantas sebagai salah satu sumber kehidupan dan energi bagi Jawa Timur.


Peserta juga mengunjungi Omah Jenang, pelaku usaha kuliner khas Blitar yang berhasil lolos dalam program Wonderful Indonesia Scale Up Hub Kementerian Pariwisata. Kunjungan tersebut menjadi sarana memperkenalkan kekuatan kuliner lokal sebagai bagian dari identitas dan daya saing ekonomi kreatif daerah.


Kelima, Rakorda ICCN Jawa Timur, yang mempertemukan jejaring komunitas kreatif dari 38 kabupaten dan kota di Jawa Timur. Forum ini membahas penguatan ekosistem, pemetaan potensi, serta penyusunan langkah bersama agar ekonomi kreatif mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.


Salah satu agenda penting Rakorda adalah merumuskan rekomendasi bertajuk “Suara Kreatif Jatim” yang direncanakan disampaikan kepada Menteri Ekonomi Kreatif Indonesia dalam rangkaian Indonesia Creative Connect pada agenda World Conference on Creative Economy di Jakarta.


Koordinator Daerah ICCN Jawa Timur, M. Anwar, mengatakan bahwa Rakorda di Blitar merupakan pelaksanaan Rakorda ICCN Jawa Timur yang kelima. Menurutnya, kegiatan kali ini memiliki arti penting karena menjadi momentum kolaborasi dengan pemerintah daerah.


“Baru kali ini ICCN Jawa Timur berkolaborasi dengan pemerintah daerah. Rakorda ICCN dan Jatim Creative Connect ini merupakan rangkaian dari Rakornas ICCN atau Indonesia Creative Connect,” ungkap Anwar.


Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperluas jejaring antarpelaku ekonomi kreatif sekaligus menghasilkan kerja sama yang lebih konkret di masing-masing kabupaten dan kota.


Anwar menegaskan, keberhasilan Rakorda tidak hanya diukur dari terselenggaranya forum dan pertemuan, tetapi juga dari tindak lanjut yang dilakukan setelah peserta kembali ke daerah masing-masing.


Melalui Jatim Creative Connect 2026, ICCN Jawa Timur berharap sinergi antara pemerintah, komunitas, akademisi, dunia usaha, media, dan pemangku kepentingan lainnya semakin kuat. Dengan demikian, potensi kreatif daerah dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan, membuka peluang usaha, menciptakan lapangan kerja, serta membawa karya dan inovasi lokal menuju panggung nasional hingga internasional.


Dari Blitar untuk Indonesia, Jatim Creative Connect menjadi langkah bersama untuk memperkuat jejaring, menghidupkan potensi lokal, dan membangun masa depan ekonomi kreatif Jawa Timur.