Infokotabatu.com Kota Batu ; Menghadapi meningkatnya ancaman bencana hidrometeorologi menjelang musim penghujan 2026–2027, Kapolres Batu AKBP Panji Gedhe Prabawa, S.H., S.I.K., M.A.P., meminta seluruh pemangku kepentingan mengoptimalkan kembali keberadaan Destana (Desa Tangguh Bencana) sebagai garda terdepan dalam kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana di tingkat desa.
Penegasan tersebut disampaikan Kapolres Batu saat memimpin Apel Gelar Pasukan Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi Tahun 2026 yang digelar di Lapangan Rest Area Jalibar, Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Batu, Kota Batu, Rabu (4/11/2026) pagi.
Kegiatan yang dimulai pukul 07.30 WIB tersebut melibatkan sekitar 150 personel gabungan dari unsur TNI-Polri, pemerintah daerah, instansi terkait, organisasi kemasyarakatan, serta relawan kebencanaan.
Apel kesiapsiagaan turut dihadiri Wali Kota Batu H. Nurochman, S.H., M.H., Wakil Wali Kota Batu Heli Sutanto, S.H., M.H., Dandim 0818 Malang-Batu Letkol Czi. Bayu Nugroho, S.Hub.Int., M.I.P., serta jajaran pejabat utama Polres Batu dan pimpinan perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kota Batu.
Dalam amanatnya, Kapolres Batu mengingatkan bahwa wilayah Indonesia, termasuk Kota Batu, sedang memasuki masa peralihan dari musim kemarau menuju musim penghujan. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, hingga pohon tumbang.
Menurutnya, kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak cukup hanya mengandalkan keberadaan personel dan peralatan, tetapi juga membutuhkan sistem mitigasi yang terencana serta keterlibatan aktif masyarakat.
Kapolres menekankan lima langkah strategis yang harus segera dilaksanakan seluruh stakeholder. Pertama, melakukan pemetaan ulang wilayah rawan bencana secara akurat hingga tingkat desa dan kelurahan, sekaligus mengoptimalkan kembali Destana.
Kedua, memperkuat mitigasi risiko melalui langkah-langkah pencegahan sejak dini guna melindungi keselamatan masyarakat dan infrastruktur vital. Ketiga, memastikan kesiapan personel serta seluruh sarana dan prasarana agar dapat digunakan sewaktu-waktu dalam kondisi darurat.
Keempat, menyosialisasikan jalur evakuasi dan menyiapkan lokasi penampungan pengungsi yang aman dan layak. Kelima, memperkuat sinergi lintas sektoral melalui penyusunan standar operasional prosedur (SOP) yang jelas, termasuk pembagian tugas dan rantai komando dalam penanganan bencana.
Angka Kejadian Bencana Mengalami Peningkatan
Dalam kesempatan tersebut, AKBP Panji Gedhe Prabawa juga memaparkan data kejadian bencana di wilayah hukum Polres Batu yang menunjukkan peningkatan pada 2026 dibandingkan tahun sebelumnya.
Sepanjang 2025, tercatat sebanyak 73 kejadian bencana, terdiri atas 52 tanah longsor, 9 banjir, serta 12 kejadian angin kencang dan pohon tumbang.
Sementara pada 2026, jumlah kejadian meningkat menjadi 122 peristiwa. Rinciannya meliputi 20 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), 52 tanah longsor, 11 banjir, serta 39 kejadian angin kencang atau puting beliung.
“Data peningkatan kejadian bencana yang kita miliki menegaskan bahwa ancaman bencana bukan hanya soal jumlah, tetapi soal kesiapan sistem, sinergi antarinstansi, dan partisipasi aktif masyarakat,” tegas Kapolres Batu.
Ia berharap apel kesiapsiagaan tersebut mampu menyatukan persepsi seluruh unsur terkait, sekaligus meningkatkan kecepatan dan ketepatan dalam mengambil tindakan ketika terjadi bencana.
Kapolres juga mengajak seluruh personel gabungan menjadikan tugas penanggulangan bencana sebagai bentuk pengabdian kemanusiaan kepada masyarakat Kota Batu.
“Saya berharap melalui apel kesiapsiagaan ini, kita semua tidak hanya siap secara fisik dan peralatan, tetapi juga memiliki kesamaan persepsi, kecepatan bertindak, serta kepedulian yang tinggi. Mari kita niatkan tugas kemanusiaan ini sebagai pengabdian terbaik bagi masyarakat Kota Batu,” pungkasnya.
Perkuat Koordinasi dan Kesiapan di Wilayah Rawan
Apel gelar pasukan ini menjadi langkah strategis Pemerintah Kota Batu bersama Forkopimda dalam memperkuat kesiapan menghadapi potensi bencana selama periode musim hujan 2026–2027.
Sebagai tindak lanjut, seluruh instansi terkait diharapkan terus meningkatkan koordinasi, termasuk dengan Pemerintah Kabupaten Malang dan BPBD. Kesiapan petugas serta penempatan alat berat di sejumlah jalur rawan bencana juga perlu dioptimalkan untuk mempercepat penanganan apabila terjadi keadaan darurat.
Melalui penguatan mitigasi, optimalisasi Destana, kesiapan personel, serta kolaborasi lintas sektor, diharapkan risiko dan dampak bencana hidrometeorologi di Kota Batu dapat diminimalkan sehingga keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama.




